CERITA PENDEK
BINTANG KELAS YANG DIPAKSA REDUP OLEH PERUT LAPAR
Di sebuah gubuk reot pinggir sawah, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Lintang. Ia bukanlah anak biasa. Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, ia telah berkali-kali menjadi juara kelas. Otaknya cemerlang, nilai-nilainya selalu sempurna, dan matanya selalu berbinar penuh rasa ingin tahu dan haus akan ilmu pengetahuan.
Lintang punya mimpi besar: ia ingin sekolah setinggi mungkin. Ia ingin menjadi insinyur, merancang jembatan kokoh yang dapat menghubungkan desa-desa terpencil seperti desanya. Setiap malam, di bawah temaram lampu minyak, ia tekun belajar. Buku-buku pelajaran sekolah dasarnya sudah lusuh, penuh coretan rumus dan catatan kecil.
Namun, takdir berkata lain. Ayah Lintang, yang merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga, jatuh sakit parah. Tabungan keluarga yang pada saat itu pas-pasan habis tak tersisa untuk biaya pengobatan. Ibu Lintang yang hanya seorang buruh tani serabutan yang penghasilannya tidak menentu.
Kelulusan SD pun tiba, Lintang lulus dengan nilai terbaik se-kabupaten, mengetahui hal tersebut ia segera membawa pulang ijazahnya dengan bangga bercampur khawatir. Ia tahu, untuk melanjutkan ke SMP, butuh biaya pendaftaran, seragam, dan buku-buku baru.
Sesampainya di rumah, dengan perasaan bimbang Lintang pun menyatakan keinginannya, "Ibu... aku ingin sekolah SMP," ucap Lintang lirih, menatap ibunya yang sedang menjahit karung beras yang sobek.
Ibu Lintang menghentikan jarumnya. Matanya berkaca-kaca. "Maafkan Ibu, Nak. Kita benar-benar tidak punya uang lagi. Biaya berobat Bapak... dan kebutuhan makan sehari-hari..."
Mimpi Lintang yang tadinya membumbung tinggi seakan runtuh seketika. Ambisi yang awalnya berapi-api harus terkubur oleh realitas pahit ekonomi keluarga. Ia memeluk ibunya erat, berusaha tegar meski hatinya hancur.
Keesokan harinya, alih-alih memakai seragam putih-merah, Lintang mengenakan kemeja lusuh dan celana panjang bekas ayahnya. Ia pergi ke kota, mencari pekerjaan serabutan di pasar, mengangkat sayuran, atau membersihkan toko demi membantu ibunya mencari nafkah.
Bintang kecil yang seharusnya bersinar terang di bangku sekolah, kini meredup di tengah hiruk pikuk pasar. Lintang tetap cerdas, ia belajar menghitung untung rugi dari pedagang pasar, tetapi buku-buku fisika dan matematika digantikan oleh tumpukan bawang dan kentang.
Meski begitu, Lintang tidak pernah kehilangan semangat belajarnya sepenuhnya. Di sela-sela kesibukan, ia masih menyempatkan diri membaca koran bekas yang ditemukannya, mencoba menyerap ilmu dari mana saja. Ia mungkin tidak bisa sekolah tinggi, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah berhenti belajar dan berjuang demi mengubah nasib keluarganya.